Post Top Ad

August 06, 2019

Melestarikan Hutan, Melestarikan Kehidupan

by , in

15 tahun lalu, saya termangu di depan loket apotek klinik dekat rumah. Saya menatap keranjang obat atas nama saya yang diberi oleh apoteker. Obat apa ini, banyak sekali? Bentuknya besar-besar dan banyak macamnya. Hari-hari berlanjut dengan saya harus rutin minum obat ini, bahkan sampai harus di x-ray karena kondisinya begitu parah. Pada konsultasi kesekian kalinya, saya harus ikhlas menerima dengan lapang dada kalau saya terkena paru-paru basah. Panjang sekali pengobatan kala itu, hampir 6 bulan lamanya. 

Kok bisa sakit mut? Yaaa kala itu asap kembali datang dan cukup parah. Sehingga sekolah pun diliburkan. Eh saya kebagian pula dapat sakit, yaa untung saja support keluarga sangat kuat. Sehingga saya bisa sembuh dan kembali beraktifitas seperti sediakala, hingga hari ini. 

Jujur saja, kasus asap ini adalah kasus bencana yang tidak ada habis-habisnya hadir di Riau. Kasus yang dihadirkan sendiri oleh masyarakat disini juga. Maklum, hutan dibuka dengan cara praktis, main bakar aja biar cepat. Cepat sih cepat, tapi dampaknya bukan main. 

Belajar melestarikan hutan 

Nah pada kesempatan kali ini, saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya mengikuti “Forest Talk”. Event ini mengangkat tema “Menuju pengelolaan Hutan lestari”. Diadakan oleh yayasan dr sjahrir dan menghadirkan pembicara handal di bidang ini. Yayasan Doktor Sjahrir merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan DR.Sjahrir (alm) dan bergerak dibidang Pendidikan, kesehatan dan lingkungan, sedangkan The Climate Reality Project Indonesia, merupakan cabang dari The Climate Reality Project, mendukung kerja lebih dari 300 pemimpin iklim di Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang dan termasuk para pemimpin bisnis, profesional, pendidik, atlet, musisi, ilmuwan, aktor, pelajar, dan pemuka agama". 

Pada acara ini terbagi dalam dua sesi, yakni sesi pertama berupa seminar dan sesi kedua kunjungan ke Desa Makmur Peduli Api. Pada sesi pertama diisi oleh ada 4 narasumber yang akan Sharing tentang pengelolaan hutan yaitu, Dr. Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Indonesia, Dr. Atiek Widayati Perwakilan Tropenbos Indonesia, Murni Titi Resdiana, Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim Indonesia yang kebetulan berhalangan hadir, dan Bapak Tahan Manurung dari Asia Pulp and Paper. 

Pembicara pertama Dr Amanda membahas mengenai perubahan iklim yang cukup drastis, memang sih sadar banget hari-hari yang kita jalani hari ini terasa lebih gerah dan cuaca yang tidak menent. Padahal dulu kita bisa dengan mudah memperkirakan 2 musim yang ada di Indonesia musim penghujan dan kemarau. Sesi kedua diisi oleh Ibu Murni, nah disini ibu murni banyak memberikan banyak informasi yang menarik. Secara ga sadar, gaya hidup kita sekarang itu sangat tidak minimalis dan banyak menyumbang limbah. Sebut saja limbah fashion misalnya betapa kita banyak membeli pakaian tanpa memikirkan penggunaan jangka panjang. Asal diskon beli, asal buy one get one beli. Eh jujur nih itu juga terjadi pada saya, berhubung perkuliahan saya sudah usai, saya ada menyempatkan merapikan pakaian. Cukup pedih sih hati ini, menumpuk banget pakaiannya. 

Padahal sekarang sudah banyak pilihan produk fashion yang lebih bagus tapi tahan lama, seperti kain tencel, lalu untuk produksi menggunakan pewarna-pewarna alami. Kemudian bahan daur ulang. Sungguh harus kembali difikirkan kembali langkah-langkah kedepan untuk lehidupan ini 

Berkunjung ke Desa Makmur Peduli Api 

Jujur saja saya masih baru-baru ini mengenal desa-desa binaan perusahaan. Desa pertama yang saya kenal dibina oleh perusahaan adalah Desa Sukajaya, itu desa yang butuh waktu sekitar 45 menit perjalanan dari rumah saya di Perawang. Dari situ saya mengenal bagaimana bentuk desa binaan. Ya memang desa-desa terpencil yang berada disekitar perusahaan. Di desa tersebut masyarakat diberi bantuan pembuatan sumur, wc serta pembinaan keterampilan. 

Nah kali ini menjadii pengalaman baru bagi saya mengunjungi Desa Makmur Peduli Api. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan ke desa yang berlokasi di kampar ini. Di desa ini masyarakat dibina dari berbagai sisi, yang paling banyak di sektor perekonomian. Wih disini produk-produk kuliner cukup berkembang lho. Kemarin ibu-ibu mendemokan pembuatan keripik tempe dan keripik pisang. Wahhh saya baru tahu kalau buat keripik pisangnya mereka langsung memarut pisangnya langsung ke penggorengan. Hasilnya renyah ga berminyak yang berlebihan. Selain itu juga ada pembuatan kerajinan tudung saji dengan bahan-bahan dari alami. Ya seperti dari dedaunan dan di hias manual. Kreatif pokoknya... 

Saya cukup senang bisa berpartisipasi di acara kali ini, masih ada waktu 5 bulan lagi menjelang 2020. Masih ada waktu untuk berbenah diri dan menjadi orang yang lebih baik untuk diri sendiri dan lingkungan.
August 05, 2019

Punya Asuransi Kesehatan Sejak Dini Itu Baik, tapi Awas Keliru

by , in
Siapa di sini yang sudah punya asuransi kesehatan? Hayo, ngaku yang belum. Gak apa-apa, lebih baik terlambat daripada buru-buru lalu keliru. Para pakar keuangan dan asuransi selalu omong soal pentingnya punya asuransi kesehatan sejak dini. Gak ada yang salah dengan omongan itu. 

Yang salah adalah jika mendesak orang-orang untuk punya asuransi kesehatan tanpa lebih dulu melakukan check and recheck. Sama saja kayak maksa orang nikah tanpa tahu bibit-bebet-bobot orang yang akan dinikahi. Asuransi kesehatan datang dengan beragam manfaat untuk pemiliknya. Dari bebas biaya perawatan sampai uang pertanggungan kepada ahli ahli waris jika pemilik asuransi wafat. 
Tapi, bila gak teliti, orang bisa jadi tertipu atau keliru hingga akhirnya mengajukan komplain yang sia-sia. Kenapa sia-sia? Karena sudah pasti salah lantaran dari awal gak teliti. 

Berikut ini sejumlah hal yang harus dipelototi saat hendak beli asuransi kesehatan. 

1. Manfaat apa saja 

Manfaat asuransi kesehatan antara lain menjamin biaya perawatan di rumah sakit. Selami manfaat itu lebih dalam, misalnya berapa limit alias batas biayanya. 

Lalu kelas kamarnya berapa, apakah kelas 3, kelas 2, kelas 1, atau VIP. Juga penyakit apa yang gak termasuk yang ditanggung biayanya alias dikecualikan. Manfaat ini mesti sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

2. Premi berapa 

Premi adalah iuran yang kudu dibayar untuk mendapatkan manfaat asuransi kesehatan. Premi bisa dibayar per bulan, per tiga bulan, per enam bulan, atau per tahun. 

Cari tahu besaran premi untuk manfaat yang akan diperoleh, plus biaya tambahan bila hendak mendapat manfaat tambahan. Jangan sampai salah kira ada manfaat tambahan yang bisa diperoleh tanpa bayar premi ekstra. Premi yang besar menandakan manfaat yang lebih besar. Tapi bisa jadi premi di asuransi kesehatan A lebih kecil dari asuransi kesehatan B walau manfaatnya sama. 

Ini pentingnya membandingkan layanan asuransi sebelum menentukan pilihan. Kita jadi tahu mana yang kemahalan dan mana yang terjangkau. 

3. Kalau premi telat gimana 

Premi yang telat bisa berujung pada tidak aktifnya polis asuransi. Kalau polis gak aktif alias lapse, ya manfaat asuransi kesehatan gak bisa didapat. Jadi jika sakit gak ditanggung deh biayanya. Tapi ada batas waktu antara jatuh tempo premi hingga polis dinyatakan lapse. Ini disebut masa tenggang, kayak kartu provider telepon yang masa aktifnya habis. 

Jika premi dibayar pada masa tenggang itu, polis bisa aktif lagi. Nah, cari tahu deh berapa lama masa tenggangnya dan apakah ada denda. Kalau ada denda, berapa dendanya. Yang kayak gini penting karena bisa bikin rumit urusan asuransi kesehatan. Ketika sudah kejadian dirawat saat polis lapse, kita gak bisa apa-apa lagi. Mau komplain karena gak dibiayai? Mental pasti karena memang polis sudah gak aktif. 

4. Cara klaim gimana 

Poin terakhir ini yang sering jadi masalah, terutama buat pemilik asuransi kesehatan dengan sistem reimburse. Orang protes karena klaim reimburse ditolak. Setelah ditelusuri, ternyata ada berkas yang belum dilampirkan. 

Karena itu, harus paham betul cara klaim bagaimana. Jadi nantinya gak ada konflik-konflik lagi sampai ke surat pembaca media massa. Bahkan ada lho yang mengajukan sengketa hingga ke meja hijau. Gak kebayang waktu, tenaga, dan biaya yang tersedot untuk mengurus sengketa itu hanya untuk berakhir kalah lantaran gak teliti. 

Kekeliruan bisa diantisipasi dengan menjadi calon peserta asuransi yang teliti. Tapi teliti saja gak cukup. Harus ada pengetahuan seputar asuransi yang akan dibeli. Kita bisa tanya ke orang-orang di lingkaran terdekat, kayak keluarga, teman, atau gebetan. Siapa tahu mereka punya pengalaman enak dan gak enak dengan asuransi kesehatan yang bisa dijadikan pelajaran. 

Informasi seputar layanan asuransi ini juga bisa ditelusuri via online. Di antaranya dengan mengunjungi “mal asuransi” alias situs yang memiliki daftar layanan asuransi lengkap dengan informasi manfaat hingga cara belinya. 

Last but not least, pastikan dapetin agen asuransi yang bisa dipercaya. Soalnya, agen akan menjadi asisten kita selama mengikuti asuransi kesehatan tersebut. Agen yang baik adalah yang menuntun, bukan menjerumuskan ke jurang kekeliruan. 

Post Top Ad