"Family First" Sebuah Kalimat Yang Mengalahkan Segalanya


13 September jam 9 malam, saat itu saya sedang santai-santai di kontrakan. Lebih tepatnya lagi berkemas untuk berangkat ke malaysia tanggal 15 September. Selain itu juga mempersiapkan alat untuk liputan Do Music Festival tanggal 14nya.

Ya, dipertengahan bulan september seharusnya menjadi masa paling sibuk untuk saya. Tapi semua seketika ambyar. Saat saya sedang tenangnya, hp saya berbunyi. Telpon dari nomor tak dikenal, yang kemudian saya simpan sebagai nomor om heri(oomnya ika). Om heri tiba-tiba menelpon saya perihal papa. Papa tiba-tiba pingsan di mesjid dan dilarikan ke UGD klinik IKPP.

Tak lama setelah saya menutup telpon dari om heri, ika pun menelpon dan mengabarkan kabar yang sama. Saya mau nangis tapi ga bisa, saya ga suka nangis malam-malam. Perut saya sakit,perasaan sesak tapi saya harus berkemas. Karna telepon selanjutnya mengabarkan papa harus dirujuk ke Pekanbaru. Kalau sudah dirujuk ke Pekanbaru sudah pasti bukan sakit biasa.

Sejam kemudian (jam 11 malam) sampailah ke rs awal bros panam, saya yang sudah duluan sampai di igd langsung berlari ketika papa sampai.

Disitu saya lihat papa berbaring tegang mata terpejam terbuka hanya bilang sakit2. Ada mama, nasywa (iya nasywa dijemput), firda, bu imah, om heri, tante tini, om tia dan om rais(papa bang bayu) serta perawat dari perawang.
Saya cuma lihat mama terlalu tegar, tiada air mata yang ada hanya zikir san doa. Walau saya bisa lihat matanya sudah berkaca-kaca.

Tak lama menunggu, ternyata igdnya penuh dan harus dirujuk ke rsud. Saya pulang sejenak untuk mengambil kain. Karena papa tidak bawa selimut.

Diperjalanan, saya tak sanggup menahan air mata. Ada apa ini??
Apalagi saat itu saya menerima pesan bahwa domusic ada berita direschedule pula. Sepanjang perjalanan saya menangis, kenapa kok begini banget?
Sudahlah asap, kemudian kerjaan tertunda dan dapat kabar kurang baik pula. 

Penantian
10 jam pertama adalah situasi paling tak tentu arah bagi kami sekeluarga.
Tegang, tidak tidur menunggu hasil cek darah,ct scan dan rontgen yang tentu saja tidak dapat 5 menit ditunggu. Yang pada akhirnya dapat informasi yakni stroke hemoragik.

Seharusnya, habis dari igd papa harus masuk icu. Tapi ntahlah, ruangannya penuh dan waiting list. Sudah seperti daftar haji saja. Daftar haji bisa menunggu, tapi kalau darurat begini?

Untuk sementara papa dirawat diruang biasa berisi 2 orang. Ntahlah saya betul-betul tak bisa berkata apa-apa, Ternyata untuk bpjs masih di gedung lama. Semoga pembangunan rsud cepat selesai dan semua dapat berobat dengan fasilitas yang lebih baik.

3 hari pertama memang betul-betul hari yang kurang tidur, saya cuma dapat tidur 2 jam bergantian ama mama dan firda. Sedihnya juga ditambah dengan saya membatalkan keikutsertaan ke malaysia tsb. Untung Bang Sharm serta pihak yang bekerjasama dengan saya dapat memaklumi. (Terimakasih sekali).

Diantara tidurnya papa akibat obat pereda sakit, saya sempat ngobrol ama mama. Air mata saya tidak tertahankan ketika mama bilang terimakasih untuk tidak pergi dan membantu menjaga papa. Terimakasih sudah jadi kakak yang baik, terimakasih sudah mau kesana-kemari. Belum lagi ketidak siapan kami bila ini adalah saat terakhir ketemu papa (Aduh saya nangis nulis bagian yang ini).

Tapi Allah masih memberi kesempatan kepada keluarga kecil kami ini. 11 hari perawatan dan akhirnya papa diizinkan untuk pulang oleh dokter dan dibekalo banyak obat untuk pemulihani

Kesempatan kedua
Saya tidak bisa bayangkan bila ini adalah saat terakhir, saya belum maksimal membahagiakan keluarga ini, saya telat lulus,belum wisuda walau sudah lulus. Belum dapat kerjaan yang bikin saya tak perlu intip label harganya, belum nemu jodoh, belum nikah, belum kasih cucu, belum jalan-jalan sekeluarga.

Tapi, Alhamdulillah kesempatan kedua berpihak pada kami. Pah, kalau papa baca tulisan ini (Tia tau papa adalah pembaca tetap blog ini walau tak subscribe, hehe) terimakasih sudah mau berjuang, mau berusaha sembuh, jangan banyak kelakuan nakal lagi, rajin minum obat, jangan semua difikirin ya. Jaga selalu kesehatan, masih mau lihat cucu gemash kan? Masih mau lihat pidaw jadi guru BK yang dicintai murid kan? Masih mau lihat nasywa terus berprestasi tiada henti kan?(Yup, diantara kami bertiga, Nasywa adalah anak yang paling pintar )

Mungkin saat ini harus selalu dekat keluarga. Ah,saya tak tau mau nulis apa, air mata sudah berderai mengetik cerita ini.

Semoga teman-teman yang membaca tulisan ini diberi kesehatan sekeluarga.

1 comment

  1. ya, kalau posisi seperti itu abang juga pasti family first juga mut. kita ga pernah tau

    ReplyDelete