Cegah Stunting Demi Memaksimalkan Tumbuh Kembang Anak

 


Ga kerasa, kehidupannku sudah memasuki orang-orang terdekat menikah dan memiliki anak. Tiap bulan ada saja undangan pernikahan dan akikah yang dikirimkan kepadaku. Kalau berkumpul pun, beberapa teman juga membawa anak-nya dan kadang aku mencoba mendekatkan diri kepada anak-anak tersebut. Supaya mulai terbiasa “memegang anak”. Awal-awal sungguh aku bingung cara megang anak, makanya untuk anak yang aku akan coba pegang itu biasanya sudah berumur diatas setahun. Biasalah, aku merasa “aman” kalau sudah diumur segitu hehehe.

Perlahan tapi pasti, dengan kondisi seperti ini membuatku sedikit demi sedikit mulai belajar mengenai pernikahan, keluarga hingga parenting. Memang jodoh itu tidak bisa ditebak kapan datangnya. Tapi kalau kita mempersiapkan diri sendiri dari sekarang, insya allah saat menikah nanti sudah tidak terlalu bingung ya kan?

Cegah Stunting Demi Memaksimalkan Tumbuh Kembang Anak

Istilah Stunting baru-baru ini aku ketahui, awalnya aku cuma nyari-nyari resep mpasi. Tahu ga kenapa aku nyari resep mpasi? Karena pada mpasi, diperkenalkan sayur, daging dan aku melihat perpaduan bahan yang digunakan untuk diterapkan di makananku sehari-hari. . Tapi kalau untuk aku tentu saja yaaa saja diolah seperti biasa saja. Dulu aku termasuk anak yang pemilih dalam makan, apalagi makan sayur dan ikan. Ada manfaatnya juga saat MTs aku dimasukkan ke pesantren. Tentu harus menerima menu yang tersaji tiap harinya, disitulah aku mulai terbuka mau makan ikan dan sayur tersebut. Apalagi menjelang kepala 3 gini, ga mungkin lagi pemilih makanan, sudah harus tahu apa yang harus disantap demi gizi yang seimbang.


Nah menurut Kementrian Kesehatan,Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak balita akibat dari kekurangan gizi saat mereka dalam kandungan hingga dilahirkan kedunia, tetapi kondisi stunting terlihat setelah bayi berusia 2 Tahun. Adapun definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3.00 SD (severely stunted).

1000 hari pertama kehidupan adalah waktu yang sangat penting untuk perkembangan anak. Sejak hasil test ibu dinyatakan positif hamil, maka ibu berkewajiban untuk memenuhi gizi, agar janin dapat berkembang dengan baik, kemudian setelah lahir pemenuhan gizi juga tetap dilanjutkan.

Ketahui Fungsi Susu Kental Manis yang sebenarnya

Edukasi stunting terus dilakukan oleh berbagai pihak, karena stunting itu dipicu 3 hal utama, yaitu Asupan gula, Pola Asuh serta Sanitasi. Terkait asupan gula, tentu teman-teman mengetahui susu kental manis kan? Nah, susu kental manis sebenarnya merupakan bahan tambahan pada makanan, susu kental manis tidak dapat menggantikan fungsi air susu ibu maupun susu formula. Tingkat gula pada susu kental manis atau yang sekarang lebih sering disebut kental manis saja cukup tinggi.

Pemberian susu kepada anak harus disesuaikan dengan usianya. 0-24 bulan harus diberikan ASI. Jika memang orang tua tidak dapat memberikan ASI, bisa berkonsultasi dengan ahli agar mendapatkan alternatif.

Kental Manis bukan pengganti ASI maupun susu formula. Pemberian susu yang salah, misalkan kental manis, persepsi masyarakat yang salah menganggap kental manis adalah susu pengganti asi, padahal bukan. 

Pentingnya edukasi menyeluruh didukung oleh semua pihak, kalau perlu adanya peraturan khusus seperti merokok berbahaya

Batasi konsumsi gula harian sedari dini, karena semakin kesini penderita diabetes sudah mulai menyerang usia muda. Hal ini perlu diwaspadai juga tentunya. Kemudian pola asuh anak, sepakati pola asuh yang tepat untuk anak Bersama pasangan serta keluarga, dengan begitu anak akan terbantu berkembang secara baik dan jangan lupa perhatikan juga sanitasi dan kebersihkan lingkungan. Lingkungan bersih, tercipta kenyamanan bagi anak dan keluarga.

Peran serta Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan organisasi wanita Aisyiyah dalam edukasi stunting

Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan organisasi wanita Aisyiyah Pusat bekerjasama memberikan edukasi kesehatan di Provinsi Riau. Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat mengatakan stunting pada anak masih banyak terjadi terutama di wilayah Riau. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya literasi masyarakat yang menyebabkan Indonesia masih darurat stunting.

Kemudian, disampaikan pula oleh Majelis Pimpinan Pusat Aisyiyah Jakarta, Khairunnisa menyebut gerakan kesehatan ini menjadi salah satu fokus organisasinya ke depan. Sebab, stunting ini merusak pertumbuhan dan perkembangan sumber daya manusia (SDM). Bagaimana kita bisa membuat generasi emas jika masih banyak ditemukan stunting pada anak,

Nah bagaimana, sudah siap untuk edukasi stunting demi masa depan anak yang cerah? Kalau kamu ada kegiatan serupa, yuk mari sampaikan lebih luas





 

Tidak ada komentar