Post Top Ad

Pekanbaru Heritage Walk:Lorong Waktu Pekanbaru Tempo Dulu


Pekanbaru buat saya adalah tempat dimana saya tumbuh dan berkembang. Bayangkan saja,sejak kecil saya besar Di Perawang,kalau nyari hiburan perginya Ke Pekanbaru,menuntut ilmu dan berproses juga Di Pekanbaru. Jadi,ya sudah cukup lama saya tinggal di Riau ini,kira-kira sudah 22 tahun lamanya menjadi “Orang Riau”.

Tapi,saya masih belum mengenal dengan baik Ibukota Provinsi saya tinggal ini,Pekanbaru. Selama ini saya hanya menjalani hidup saya tanpa tahu seperti apa kota ini dahulunya. Nah,demi mengisi kekosongan pelajaran Sejarah ,Bab Kota Pekanbaru(Berasa Zaman SMA ya mut?) Sabtu (11/2) lalu saya mengikut Pekanbaru Heritage Walk(selanjutnya disebut PHW). 

Sabtu pagi yang cerah,dengan penuh semangat dari Panam Ke Senapelan saya meluncur ke meeting point Pekanbaru Heritage Walk,yakni Rumah Singgah Sultan Siak,yang lokasinya berada di bawah Jembatan Siak 3. Tak disangka peserta PHW ini cukup banyak,lebih dari 50 orang berkumpul untuk menelusuri rekam masa lalu Kota Pekanbaru ini. Mulai dari Komunitas Bacpacker Pekanbaru,para pejabat airlines,travel agent bahkan orang-orang yang sudah berkeluarga.
Oh ya,belakangan saya baru tahu kalau PHW edisi perdana ini diadakan dua trip,saya ikut trip pertama di hari sabtu bareng Kak Lianda. Sedangkan trip kedua di Hari Minggu yang ternyata Gubernur Riau ikutan juga.

Jadi,trip dibuka dengan pengarahan oleh Bang Iwan Syawal. Abang sesepuh ini udah banyak dikenal orang sebagai ensiklopedia berjalan,pengetahuan akan sejarah,kebudayaan bikin kita terkagum-kagum. Dalam pengarahannya beliau menjelaskan apa saja rute yang akan dilewati dan sedikit teaser mengenai rute tersebut.

Setelah pengarahan,peserta PHW dibagi dalam beberapa kelompok,saya dan Kak Lianda bergabung di kelompok teman-teman backpacker Pekanbaru dan di guide oleh Kak Mike dan Bang Bayu Amde. Oh ya,selain ada guide,juga dibagikan e-book yang berisi rangkuman dan informasi seputar trip PHW kali ini. 

Daripada ceritaya cuma mendam di kepala saya,maka saya mau cerita nih pengalaman mengikuti PHW edisi perdana ini,yuk mari...

Rumah Singgah Sultan Siak
Ada rumah sederhana,cantik warnanya yang berada di bawah Jembatan Siak 3. Tepatnya di tepi Sungai Siak,tapi rumah siapakah itu? Kalau menurut yang saya dengar sih itu namanya Rumah Singgah tuan Qadhi,tapi akan tetapi setelah ditelusuri lagi,rumah tersebut adalah Rumah Singgah Sultan Siak. Rumah tersebut digunakan Sultan Siak ketika singgah Di Pekanbaru. Perjalanan dari Siak ke Pekanbaru sendiri adalah 2 jam.

Rumah ini sudah didirikan tahun 1895 (sudah cukup lama ya?)oleh H.Nurdin Putin (mertua Tuan Qadhi H. Zakaria). Jadi,saat Sultan Syarif Qasim II singgah Ke Pekanbaru,beliau akan berkunjung ke rumah ini terlebih dahulu. Setelah beristirahat Sultan akan beribadah di Mesjid Nur Alam/Mesjid Raya Pekanbaru yang terletak di Hasyim Straat.
Untuk saat ini,kondisi rumah ini tidak ditempati siapapun,akan tetapi sudah mulai diisi dengan berbagai photo jadul dan barang-barang tradisional. Belum begitu banyak tapi sedang diusahakan.

Terminal Lama Pekanbaru
Pekanbaru mulai berkembang saat Caltex mulai membuka kantor Di Rumbai tahun 1955. Ketika ingin ke Pekanbaru,masyarakat akan singgah terlebih dahulu di terminal bus tepi sungai. Di tahun 1950-1970 Terminal ini menjadi saksi bisu lalu lintas antar kota antar provinsi PO Bus Sinar Riau,Batang Kampar yang membawa penumpang menuju Sumatera Barat,Duri,Dumai. Tapi saya bukan termasuk masyarakat yang sempat singgah di terminal ini. Karena mobil travel Perawang-Pekanbaru dahulu singgahnya di pasar bawah.

Perjalanan dilanjutkan ke Kawasan Kampung Bandar,Di Kampung Bandar ini pun banyak hal-hal menarik yang ditemukan. Di tengah-tengah perjalanan kami melihat aktivitas bongkar muat barang secara tradisional. Iya masih tradisional karena tidak menggunakan peralatan modern,hanya digotong bersama-sama.


Rumah Tenun Kampung Bandar

Kain songket adalah salah satu kemewahan fashion dari budaya Melayu. Paling cantik ketika dijadikan pakaian dan dikenakan pada acara formal. Nah untuk mengetahui bagaimana pembuatan kain songket yang mewah ini,kita bisa melihat proses pembuatannya di Rumah Tenun Kampung Bandar. Disini terdapat 3 alat tenun bukan mesin setiap harinya memproduksi kain tenun khas Riau. 
Rumah tenun ini berdiri tahun 1890-an akhir,rumah ini merupakan kediaman keluarga alm H Abdul Hamid Yahya. Rumah ini dahulu digunakan untuk gudang logistik dan dapur umum dimasa awal kemerdekaan. Lalujuga pernah ditempati oleh KH Muhammad Sech seorang Imam besar Mesjid Raya yang juga menjabat Kadi yang diangkat langsung oleh Raja Siak Sultan Syarief Kasim.

Gudang Pelindo
Gudang ini adalah saksi bisu perdagangan antara Sumatera Timur/Pekanbaru dan Singapura . ketika sedng masa berjayanya pelabuhan ini dinggahi kapal-kapal KPM(Koninklijke paketvaart Maatsschaapij)/Perusahaan Pelayaran Belanda. Kapal ini membawa barang dari Tapung,Payakumbuh dan wilayah Sumatera Tengah lainnya untuk dibawa Ke Singapura.
Saat ini gudangnya tidak dipergunakan lagi,tapi kawasan sekitar masih bisa dimasuki untuk sekedar motret.

Istana Hinggap/Rumah Tuan Qadhi

Saya baru tahu ada rumah ini,ternyata dibalik SMA Muhammadiyah ada 1 rumah oldskool banget yang bergaya Indische.Indische adalah gaya bangunan Belanda diantara tahnun 1800-1900an awal. Pemilik Istana ini adalah H. Zakaria bin Abdul Muthalib yang bergelar Tuan Kadi.

Di dalam rumah ini pun furniturenya juga masih asli dan sudah cukup berumur juga,tapi masih terawat dengan baik. Oh ya sedikit cerita,ada satu pintu yang tidak pernah ditutup,karena bisa gedor-gedor sendiri (waw). Karena tidak bisa ditutup maka ditmabahkan teralis saja.

Perjalanan kami ditutup dengan sarapan pagi di kedai kopi Harum Manis,saya memesan pangsit yang mienya cukup kenyal dan kaldunya terasa segar
Kemudian cemilannya adalah roti isi dari Toko roti Senapelan. Toko Roti Senapelan adalah toko roti tertua yang ada Di Pekanbaru,menyajikan roti isian klasik yang disukai semua generasi.

Siap menjelajah Pekanbaru?Rute ini bisa diteusuri dengan mudah dan menyenangkan. mulai dari Jalan,sarapan,belanja hingga makan siang bisa jadi satu dikawasan Kampung Bandar ini. 

*Catatan Perjalanan bersumber dari e-book guide Team Pekanbaru Heritage

1 comment:

Post Top Ad

My Instagram